Selamat jumpa lagi semuanya …!

 
Kali ini saya masih membahas soal logika. Namun, tidak akan memperkenalkan jenis logika lainnya. Saya hanya ingin menjelaskan kembali beberapa hal pokok, yang berkaitan dengan materi utama pembahasan logika. (Waduh, formal banget nih bahasanya! ^_^ )
 
Materi pembahasan logika yang terutama, seperti saya pernah bahas dalam uraian yang berjudul Pengantar dan Materi Pembahasan, terdiri dari tiga hal: (1) sejarah dan aliran, (2) istilah, dan (3) pernyataan. Dua materi (materi ke-1 dan ke-2), sudah saya singgung sedikit dalam pembahasan lainnya yang terdahulu. Namun, saya memang belum akan menyinggung pembahasan aliran dalam logika karena yang ini agak teknis bin ribet. (nah lho, apa nih maksudnya?😕 )
 
Sengaja, dalam posting kali ini, saya akan membahas materi ke-2 dan ke-3 saja. Uraian mengenai materi ke-2, akan kita coba bahas apa bedanya “kata” (word) dan “istilah” (term). Sedangkan dalam membahas materi ke-3, kita akan bahas apa bedanya “kalimat” (sentence) dan “pernyataan” (proposition). Langsung kita mulai aja yuk?🙂
 
Kata dalam bahasa Indonesia memang bisa dipahami sebagai sesuatu yang menjadi unsur pembentuk bahasa. Misalnya, ada kata: “miskin”. Kata ini akan berarti, hanya jika kata ini digabungkan dengan kata lain atau dengan tanda bahasa yang mendukung.
 
Misalnya, “Oohh … , miskin ya?” atau, “Miskin …?”
 
Pada kalimat pertama, kata miskin bisa berarti dua hal. Hal ini menunjukkan ungkapan ketidaktahuan seseorang tentang keadaan sebelumnya yang bersangkutan dengan pengertian “miskin” itu sendiri. Kedua, ungkapan yang bernada merendahkan dapat menjadi ungkapan seseorang yang berhadapan dengan keadaan seseorang yang memang “miskin”.
 
Untuk kalimat kedua, kita akan mengerti kalau kata “miskin” di situ akan berarti pertanyaan. Juga bisa berarti ungkapan ketidakpercayaan.
 
Demikianlah, cara kita memahami “miskin” sebagai sebuah kata.
 
Walaupun begitu, “miskin” juga bisa berarti istilah. Artinya, “miskin” diberikan pengertian yang bersifat khusus dan akan dipahami secara berbeda dalam bidang tertentu. (Bandingkan uraian ini dengan apa yang sudah diperjelas oleh Pusat Bahasa)
 
Misalnya, dalam agama Islam, ada ungkapan:
“Kemiskinan itu akan mendekatkan seseorang pada penolakan beragama”.
Pun dalam agama Kristiani, khususnya kaum Protestan, memiliki keyakinan:
“Kemiskinan itu harus ditolak, karena kalau kita kaya di dunia ini, maka kita akan kaya pula di Surga”.
Tapi tidak begitu dalam agama Budhis. Ini tersirat dalam keyakinan:
“Dengan menjadi pengemis, maka seseorang akan mengerti makna kehidupan yang sebenarnya”.
(untuk uraian dalam agama ini, mohon maaf kalau misalnya ada kekeliruan. ralat akan dilakukan apabila ada yang keberatan. ^_^ )
 
Masuk pada bidang sosial, politik, ekonomi, maupun budaya, “miskin” memiliki satu pengertian yang kompleks atau amat luas. Istilah ini dapat diartikan macam-macam, sesuai dengan “maksud”, “tujuan”, atau “kepentingan” yang ada dalam penggunaan “miskin” itu.
Misalnya, ketika ditetapkan Millenium Development Goals oleh masyarakat dunia, khususnya oleh PBB, “kemiskinan itu harus dapat diatasi pada tahun 2015” adalah slogan yang membawa dampak politis yang luar biasa. Masing-masing negara, tentunya akan membuat kebijakan ekonomi yang mengarah pada tujuan tersebut. Begitu juga para politisi akan memakai ini sebagai bagian dari kampanye.
Selain itu, hal ini juga beraspek budaya, karena “miskin” lalu dikaitkan dengan sikap hidup manusianya. Pun berhubungan dengan sosial, karena “miskin” tidak mungkin berada di luar konteks bermasyarakat.
 
Nah, dengan penjelasan yang serba sedikit, kita mungkin dapat membayangkan seperti apa bedanya kata dan istilah. Hal ini sebenarnya terletak pada bagaimana kita mengartikannya, atau bagaimana kita mendefinisikannya. Semakin teknis suatu kata didefinisikan, maka kata itu secara langsung akan menjadi istilah.
 
Lalu, terkait dengan apa yang disebut dengan kalimat dan pernyataan, kita dapat membedakannya secara mudah sebenarnya. Misalnya dalam contoh di bawah ini.
 
1. “Adik makan nasi goreng sebelum berangkat sekolah.”
2. “Adik itu makan nasi goreng sebelum berangkat sekolah.”
 
Contoh 1 ini merupakan kalimat lengkap, karena ada S+P+O+K (“Adik” = Subjek + “makan” = Predikat + “nasi goreng” = Objek + “sebelum berangkat sekolah” = Keterangan).
Contoh 2 ini merupakan pernyataan, serta terdiri dari S+K+P (“Adik” = Subjek + “itu” = Kopula + “makan nasi goreng sebelum berangkat sekolah” = Predikat)
 
Dengan memperhatikan contoh tersebut, kita dapat mengenali bahwa kalimat dan pernyataan hanya berbeda tipis saja, yaitu dibedakan dengan kata “itu”. Dalam bahasa Inggris, kata “itu” yang dimaksud sebenarnya adalah kata “is”, yang artinya “adalah” itu sendiri. Secara lebih jauh, ciri yang membuat pernyataan itu dibedakan dari kalimat adalah sisi pengujiannya. Kalimat (1) di atas, tidaklah perlu diuji isinya benar ataupun tidak karena sudah memenuhi syarat kalimat lengkap. Sedangkan dalam pernyataan (2), hal ini perlu dibuktikan kembali apakah isinya benar atau salah, khususnya untuk fakta yang ada pada Predikat dari pernyataannya tersebut. (lihat kembali pembahasan saya untuk masalah formal dan material dalam logika dalam artikel ini.)
 
Jadi, kalau kita boleh mengambil kesimpulan secara singkat, kalimat yang benar hanya membutuhkan sisi pengujian atas susunannya, sedangkan pernyataan yang benar hanya akan benar bila teruji sisi susunannya (formal) maupun sisi isi yang terkandung di dalamnya (material).
 
Nah, dengan kesimpulan yang terakhir tadi ini, saya bisa menutup artikel mengenai kata dan istilah, serta kalimat dan pernyataan, dengan baik dong. Kan dah ada kesimpulannya tuh …! :-p
Sampai jumpa dalam posting mengenai logika yang selanjutnya.

Diposkan oleh 4im pada jam 17:32    

Kategori Arsip: ,

About Kn Eights

Setiap rintik hujan turun yang makin deras elokkan hari dengan paras mendung selaras, air membasuh keras lunturkan amarah, guyuran basah buatku menunduk pasrah, pada alam yang hendak beri kesejukan hawa dingin menusuk ke raga kurasakan tak ingin berhenti ingin selalu begini enggan jauh kupergi harap terus disini entah hujan kali ini memberi kesan lain guyuran airnya buatku riang bermain, lama tak kurasa damai seperti sekarang derasnya lunturkan hatiku yang sedang berang, dalam jiwa galau perang bisa meredah hawa sejuk hilangkan gelisah melanda seolah berikan tanda untukku meresapi butiran air mampu matikan lalapan api Gelegar petir kadang sedikit ganggu nikmati basahmu kadangku meragu, harus tunggu hingga amuknya mereda memang dalam suka ada sadar sebagai jeda layak mentari siang tertutup gumpal awan hangat hilang dengan dingin ku berkawan begitu menawan saat terik kau redakan jutaan dahaga bisa kau senangkan, tandus tanah menjadi ladang subur saat kau jatuh dibumi anugerah terhambur keras menjadi gembur selamatkan bumi alam menjadi hijau bunga bisa bersemi, hujan datang hujan pergi esok datang lagi tak terduga siang malam dan seawal pagi cuma berdebar saat mendung beri salam ingin lagi kumelihat hujan turun cumbui alam. . . . . . . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s