Setelah sempat dirawat secara intensif sekitar satu minggu di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Solo sang maestro keroncong Gesang berpulang pada Kamis (20/5) pukul 18.10. Kondisi kesehatan Gesang sempat stabil pada tanggal 18 dan 19 Mei lalu namun takdir Tuhan berkata lain, sang maestro ini berpulang hari Kamis lalu di usia 92 tahun.

“Mungkin karena faktor usia juga, Eyang (Gesang) udah terlalu lanjut usia,” jelas Yuniarti seorang keponakan Gesang yang menemani Gesang di Rumah Sakit selama perawatan.

Gesang dimakamkan dengan upacara kebesaran militer di Makam Pracimaloyo, Makam Haji, Surakarta pada pukul 14:00 WIB, Jumat (21/5) lalu. setelah sebelumnya jenazah almarhum dibawa ke Balai Kota Solo untuk diberi penghormatan terakhir. Ribuan orang datang menengok untuk memberi penghormatan dan doa terakhir bagi Gesang di Balaikota Solo.

Maetro keroncong yang bernama lengkap Gesang Martohartono ini lahir pada 1 Oktober 1917 di Surakarta, Jawa Tengah. Karier bermusiknya dimulai ketika ia bergabung dengan grup musik keroncong lokal saat usianya menginjak 19 tahun pada 1936. Dua tahun kemudian Gesang menciptakan lagu pertamanya yang berjudul “Keroncong Piatu”. Pada 1940 maestro keroncong ini menciptakan lagu yang sangat populer baik di level nasional maupun global yakni “Bengawan Solo.”

Lagu inilah yang kemudian mengantarkan Gesang menuju puncak kariernya. Karena lagu “Bengawan Solo” dan konsistensinya untuk mengembangkan Keroncong pula akhirnya pada November 2008 lalu majalah Rolling Stone Indonesia menasbihkannya sebagai salah seorang dari “25 Artis Terbesar Indonesia Sepanjang Masa.”

Belum lama ini lagu “Bengawan Solo” sempat diklaim oleh empat orang warga belanda sebagai lagu ciptaan mereka. Kabar tersebut jelas membuat kaget keluarga Gesang belakangan ini, namun akhirnya keluarga dan almarhum bisa tenang setelah urusan hak cipta tersebut selesai minggu lalu. Menurut Hendarmin Susilo yang menjabat sebagai Presiden Penerbit Musik Pertiwi (PMP) lembaga yang mengurusi karya cipta lagu keroncong lagu itu adalah jelas milik Gesang.

“Bengawan Solo lahir di tahun 1940, sementara yang mengklaim lagu ini dari Belanda baru lahir pada 1942, itu jelas bukti otentik kalau Bengawan Solo tidak mungkin diciptakan oleh mereka,” papar Hendarmin.

Berpulangnya Gesang jelas membuat musik keroncong kehilangan ikonnya. Hal ini disadari betul oleh Waldjinah dan Sundari Sukoco yang merupakan musisi keroncong hasil bimbingan Gesang. “Keroncong jelas kehilangan sosok Gesang, namun jangan sampai harus berlarut-larut dalam kesedihan, musik keroncong harus tetap ada,” tutur Waldjinah yang menyempatkan datang mendoakan almarhum di Balaikota walau kondisi kesehatannya juga sedang menurun.

Hal senada dituturkan oleh Sundari Sukoco, penyanyi keroncong yang menganggap Gesang sebagai gurunya. “Kita jelas kehilangan Pak Gesang, apalagi sejauh ini masik cukup sulit bagi musik keroncong untuk berkembang di kalangan muda, harus ada strategi baru agar musik ini tetap eksis,” ungkapnya. Ia juga menambahkan alternatif yang bisa muncul agar keroncong tetap eksis adalah memadukan musik keroncong dengan musik jenis lain yang lebih populer di kalangan anak muda namun dengan tetap menjaga pakem-pakem musik keroncong.

Tak hanya musisi keroncong yang kehilangan Gesang, bassist Bondan Prakoso dari Bondan Prakoso & Fade 2 Black yang mengangkat musik keroncong di single album kedua mereka, “Keroncong Protol,” khusus datang ke Solo untuk memberi penghormatan terakhir kepada Gesang. “Saya sama Fade 2 Black sempat menemui Gesang tiga tahun lalu untuk mendengarkan lagu Keroncong Protol ke beliau, beliau seneng banget dengan itu, dia senang Keroncong bisa dibuat seperti itu,” ungkapnya sehabis menyolatkan jenazah Gesang.

“Perginya Gesang kalau bisa justru membuka mata kita kalau sekarang musik keroncong begini keadaannya, makanya ayo kembali mengangkat musik ini” harap Bondan.

08/02/2011

About Kn Eights

Setiap rintik hujan turun yang makin deras elokkan hari dengan paras mendung selaras, air membasuh keras lunturkan amarah, guyuran basah buatku menunduk pasrah, pada alam yang hendak beri kesejukan hawa dingin menusuk ke raga kurasakan tak ingin berhenti ingin selalu begini enggan jauh kupergi harap terus disini entah hujan kali ini memberi kesan lain guyuran airnya buatku riang bermain, lama tak kurasa damai seperti sekarang derasnya lunturkan hatiku yang sedang berang, dalam jiwa galau perang bisa meredah hawa sejuk hilangkan gelisah melanda seolah berikan tanda untukku meresapi butiran air mampu matikan lalapan api Gelegar petir kadang sedikit ganggu nikmati basahmu kadangku meragu, harus tunggu hingga amuknya mereda memang dalam suka ada sadar sebagai jeda layak mentari siang tertutup gumpal awan hangat hilang dengan dingin ku berkawan begitu menawan saat terik kau redakan jutaan dahaga bisa kau senangkan, tandus tanah menjadi ladang subur saat kau jatuh dibumi anugerah terhambur keras menjadi gembur selamatkan bumi alam menjadi hijau bunga bisa bersemi, hujan datang hujan pergi esok datang lagi tak terduga siang malam dan seawal pagi cuma berdebar saat mendung beri salam ingin lagi kumelihat hujan turun cumbui alam. . . . . . . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s